Minggu, 31 Juli 2016

Ingsun Titip Tajug Lan Fakir Miskin


Ingsun titip tajug lan fakir miskin adalah wasiat sunan gunung jati atau yang biasa disebut Syeh Syarf Hidayatulloh. Yang mengandung makna dan arti yang sangat luhur. Dimana petuah dan amanah yang dititipkan pada generasi selanjutnya, setelah sepeninggalnya untuk tidak melupakan masjid dan fakir miskin.  Pengertian Tajug atau yang biasa disebut musolah atau masjid itu adalah rumah Alloh. Untuk itu suanan gunung jati atau syeh syrif hidayatulloh mewasiatkan pada generasi berikutnya untuk selalu meramaikan dan jangan meninggalkan masjid sepeninggalnya. Karena masjid jaman kejayaan kerajaan Islam dulu disamping sebagai tempat ibadah juga  berfungsi sebagai pusat pendidikan, pusat pemerintahan, dan ekonomi. Dimana para santri disamping belajar tentang ilmu agama, juga  diajarkan tentang ilmu dunia, dan kemaslahatan yang berkaitan dengan hablumminnannas atau hubungan antar sesama manuisa. Oleh karena itu sunan gunung jati berpesan pada rakyat dan pengikutnya untuk tidak meninggalkan masjid untuk mencapai kebahagiaan didunia dan diakherat. Seperti yang diperintahkan oleh ALLAH SWT dan RASULNYA MUHAMAD SAW
Berikut adalah ayat-ayat Al- Quran yang berkaitan tentang memakmurkan masjid.
1. Surah At-Taubah : 17
Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan mesjid-mesjid Allah, sedang mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya, dan mereka kekal di dalam neraka.
2. Surah At-Taubah : 18
Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.
3. Surah At-Taubah : 107
Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mukmin), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka Sesungguhnya bersumpah: "Kami tidak menghendaki selain kebaikan." Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya).
4. Surah Al-Hajj : 40
(yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: "Tuhan kami hanyalah Allah." Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid- masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa,
5. Surah An-Nuur : 43
Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang,
6. Surah Al-Baqarah : 114
Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang menghalanghalangi menyebut nama Allah dalam mesjid-mesjid-Nya, dan berusaha untuk merobohkannya? Mereka itu tidak sepatutnya masuk ke dalamnya (mesjid Allah), kecuali dengan rasa takut (kepada Allah). Mereka di dunia mendapat kehinaan dan di akhirat mendapat siksa yang berat.
7. Surah At-Taubah : 108
Janganlah kamu bersembahyang dalam mesjid itu selama-lamanya. Sesungguh- nya mesjid yang didirikan atas dasar taqwa (mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya. Di dalamnya mesjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih.
8. Surah Al-Baqarah : 187
Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma'af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri'tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.
9. Surah Al-Jinn : 18
Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.
10. Surah An-Nisaa’ : 43
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pema'af lagi Maha Pengampun.
11. Surah Al-A’raaf : 31
Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.
12. Surah Al-Israa’ : 7
Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam mesjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai.
Disamping itu   sunan gunung jati atau syeh syarif hidayatulloh juga berpesan untuk tidak melupakan dan melalaikan fakir miskin seperti yang disampaikan oleh Rasullulloh dalam Hadistnya :
Wasiat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam Kepada Abu Dzar Al-Ghifari

عَنْ أَبِيْ ذَرٍّ قَالَ: أَوْصَانِيْ خَلِيْلِي بِسَبْعٍ : بِحُبِّ الْمَسَاكِيْنِ وَأَنْ أَدْنُوَ مِنْهُمْ، وَأَنْ أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلُ مِنِّي وَلاَ أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ فَوقِيْ، وَأَنْ أَصِلَ رَحِمِيْ وَإِنْ جَفَانِيْ، وَأَنْ أُكْثِرَ مِنْ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ، وَأَنْ أَتَكَلَّمَ بِمُرِّ الْحَقِّ، وَلاَ تَأْخُذْنِيْ فِي اللهِ لَوْمَةُ لاَئِمٍ، وَأَنْ لاَ أَسْأَلَ النَّاسَ شَيْئًا.
Dari Abu Dzar Radhiyallahu 'anhu , ia berkata: “Kekasihku (Rasulullah) Shallallahu 'alaihi wa sallam berwasiat kepadaku dengan tujuh hal: (1) supaya aku mencintai orang-orang miskin dan dekat dengan mereka, (2) beliau memerintahkan aku agar aku melihat kepada orang yang berada di bawahku dan tidak melihat kepada orang yang berada di atasku, (3) beliau memerintahkan agar aku menyambung silaturahmiku meskipun mereka berlaku kasar kepadaku, (4) aku dianjurkan agar memperbanyak ucapan lâ haulâ walâ quwwata illâ billâh (tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah), (5) aku diperintah untuk mengatakan kebenaran meskipun pahit, (6) beliau berwasiat agar aku tidak takut celaan orang yang mencela dalam berdakwah kepada Allah, dan (7) beliau melarang aku agar tidak meminta-minta sesuatu pun kepada manusia”.

 Wasiat yang Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tujukan untuk Abu Dzar ini, pada hakikatnya adalah wasiat untuk ummat Islam secara umum. Dalam hadits ini, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berwasiat kepada Abu Dzar agar mencintai orang-orang miskin dan dekat dengan mereka. Kita sebagai ummat Islam hendaknya menyadari bahwa nasihat beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam ini tertuju juga kepada kita semua.

Orang-orang miskin yang dimaksud, adalah mereka yang hidupnya tidak berkecukupan, tidak punya kepandaian untuk mencukupi kebutuhannya, dan mereka tidak mau meminta-minta kepada manusia. Pengertian ini sesuai dengan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam :


لَيْسَ الْمِسْكِيْنُ بِهَذَا الطَّوَّافِ الَّذِي يَطُوْفُ عَلَى النَّاسِ، فَتَرُدُّهُ اللُّقْمَةُ وَاللُّقْمَتَانِ وَالتَّمْرَةُ وَالتَّمْرَتَانِ. قَالُوْا : فَمَا الْمِسْكِيْنُ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: الَّذِيْ لاَ يَجِدُ غِنًى يُغْنِيْهِ وَلاَ يُفْطَنُ لَهُ فَيُتَصَدَّقَ عَلَيْهِ، وَلاَ يَسْأَلُ النَّاسَ شَيْئًا.
"Orang miskin itu bukanlah mereka yang berkeliling meminta-minta kepada orang lain agar diberikan sesuap dan dua suap makanan dan satu-dua butir kurma.” Para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, (kalau begitu) siapa yang dimaksud orang miskin itu?” Beliau menjawab,"Mereka ialah orang yang hidupnya tidak berkecukupan, dan dia tidak mempunyai kepandaian untuk itu, lalu dia diberi shadaqah (zakat), dan mereka tidak mau meminta-minta sesuatu pun kepada orang lain.”[1]

Islam menganjurkan umatnya berlaku tawadhu` terhadap orang-orang miskin, duduk bersama mereka, menolong mereka, serta bersabar bersama mereka.


Ketika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berkumpul bersama orang-orang miskin, datanglah beberapa pemuka Quraisy hendak berbicara dengan beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam, tetapi mereka enggan duduk bersama dengan orang-orang miskin itu, lalu mereka menyuruh beliau agar mengusir orang-orang fakir dan miskin yang berada bersama beliau. Maka masuklah dalam hati beliau keinginan untuk mengusir mereka, dan ini terjadi dengan kehendak Allah Ta’ala. Lalu turunlah ayat:


"Janganlah engkau mengusir orang yang menyeru Rabb-nya di pagi dan petang hari, mereka mengharapkan wajah-Nya". [al-An’âm/6:52].[2]


Mencintai orang-orang miskin dan dekat dengan mereka, yaitu dengan membantu dan menolong mereka, bukan sekedar dekat dengan mereka. Apa yang ada pada kita, kita berikan kepada mereka karena kita akan diberikan kemudahan oleh Allah Ta’ala dalam setiap urusan, dihilangkan kesusahan pada hari Kiamat, dan memperoleh ganjaran yang besar.


Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:


مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ...
"Barangsiapa menghilangkan satu kesusahan dunia dari seorang mukmin, Allah akan menghilangkan darinya satu kesusahan di hari Kiamat. Dan barangsiapa yang memudahkan kesulitan orang yang dililit hutang, Allah akan memudahkan atasnya di dunia dan akhirat… " [3]

Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda:


السَّاعِى عَلَى اْلأَرْمَلَةِ وَالْمِسْكِيْنِ كَالْمُجَاهِدِ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ –وَأَحْسِبُهُ قَالَ-: وَكَالْقَائِمِ لاَ يَفْتُرُ وَكَالصَّائِمِ لاَ يُفْطِرُ.
"Orang yang membiayai kehidupan para janda dan orang-orang miskin bagaikan orang yang berjihad fii sabiilillaah.” –Saya (perawi) kira beliau bersabda-, “Dan bagaikan orang yang shalat tanpa merasa bosan serta bagaikan orang yang berpuasa terus-menerus”.[4]

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam selalu berkumpul bersama orang-orang miskin, sampai-sampai beliau berdo’a kepada Allah agar dihidupkan dengan tawadhu’, akan tetapi beliau mengucapkannya dengan kata "miskin".


اَللَّهُمَّ أَحْيِنِيْ مِسْكِيْنًا وَأَمِتْنِيْ مِسْكِيْنًا وَاحْشُرْنِيْ فِيْ زُمْرَةِ الْمَسَاكِيْنِ.
"Ya Allah, hidupkanlah aku dalam keadaan miskin, matikanlah aku dalam keadaan miskin, dan kumpulkanlah aku bersama rombongan orang-orang miskin".[5]

Ini adalah doa dari beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam agar Allah Ta’ala memberikan sifat tawadhu` dan rendah hati, serta agar tidak termasuk orang-orang yang sombong lagi zhalim maupun orang-orang kaya yang melampaui batas. Makna hadits ini bukanlah meminta agar beliau menjadi orang miskin, sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu Atsir rahimahullah, bahwa kata "miskin" dalam hadits di atas adalah tawadhu [6]. Sebab, di dalam hadits yang lain Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berlindung dari kefakiran.[7]


Beliau berdoa seperti ini, karena beliau mengetahui bahwa orang-orang miskin akan memasuki surga lebih dahulu daripada orang-orang kaya. Tenggang waktu antara masuknya orang-orang miskin ke dalam surga sebelum orang kaya dari kalangan kaum Muslimin adalah setengah hari, yaitu lima ratus tahun.


Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:


يَدْخُلُ فُقَرَاءُ الْمُسْلِمِيْنَ الْجَنَّةَ قَبْلَ أَغْنِيَائِهِمْ بِنِصْفِ يَوْمٍ وَهُوَ خَمْسُ مِائَةِ عَامٍ.
"Orang-orang faqir kaum Muslimin akan memasuki surga sebelum orang-orang kaya (dari kalangan kaum Muslimin) selama setengah hari, yaitu lima ratus tahun". [8]

Orang–orang miskin yang masuk surga ini, adalah mereka yang taat kepada Allah, mentauhidkan-Nya dan menjauhi perbuatan syirik, menjalankan Sunnah dan menjauhi perbuatan bid’ah, menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.


Sebab terlambatnya orang-orang kaya memasuki surga selama lima ratus tahun, adalah karena semua harta mereka akan dihitung dan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Ta’ala.


Dalam hadits yang lain Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berdo’a agar mencintai orang-orang miskin. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:


اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ، وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ، وَحُبَّ الْمَسَاكِيْنِ، وَأَنْ تَغْفِرَ لِيْ وَتَرْحَمَنِيْ، وَإِذََا أَرَدْتَ فِتْنَةَ قَوْمٍ فَتَوَفَّنِيْ غََيْرَ مَفْتُوْنٍ، وَأَسْأَلُكَ حُبَّكَ، وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُنِيْ إِلَى حُبِّكَ.
"Ya Allah, aku memohon kepada-Mu agar aku dapat melakukan perbuatan-perbuatan baik, meninggalkan perbuatan munkar, mencintai orang miskin, dan agar Engkau mengampuni dan menyayangiku. Jika Engkau hendak menimpakan suatu fitnah (malapetaka) pada suatu kaum, maka wafatkanlah aku dalam keadaan tidak terkena fitnah itu. Dan aku memohon kepada-Mu rasa cinta kepada-Mu, rasa cinta kepada orang-orang yang mencintaimu, dan rasa cinta kepada segala perbuatan yang mendekatkanku untuk mencintai-Mu". [9]

Selain itu, dengan menolong orang-orang miskin dan lemah, kita akan memperoleh rezeki dan pertolongan dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:


هَلْ تُنْصَرُوْنَ وَتُرْزَقُوْنَ إِلاَّ بِضُعَفَائِكُمْ.
"Kalian hanyalah mendapat pertolongan dan rezeki dengan sebab adanya orang-orang lemah dari kalangan kalian".[10]

Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda:


إِنَّمَا يَنْصُرُ اللهُ هَذَهِ اْلأُمَّةَ بِضَعِيْفِهَا: بِدَعْوَتِهِمْ، وَصَلاَتِهِمْ، وَإِخْلاَصِهِمْ.
"Sesungguhnya Allah menolong ummat ini dengan sebab orang-orang lemah mereka di antara mereka, yaitu dengan doa, shalat, dan keikhlasan mereka".[11]

PENUTUP

Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat untuk penulis dan para pembaca, dan wasiat Rasulullah ini dapat kita laksanakan dengan ikhlas karena Allah Ta’ala. Mudah-mudahan shalawat dan salam tetap tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, juga kepada kelurga dan para sahabat beliau.

Akhir seruan kami, segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam.

Minggu, 10 November 2013

SAPA KANG NANDUR PASTI KANG NGUNDU

Sapa Kang Nandur Pasti Kang Ngundu.Nandur pari  cukule pari, nandur suket  cukule suket. Nandur suket bli bakalan cukule pari,Tapi nandur pari pasti ana  cukul sukete.adalah filsafat Cirebon yang jika diartikan dalam bahasa Indonesia adalah sebagai berikut: siapa yang menanam pasti yang akan memetik hasilnya, Jika menanam padi yang tumbuh padi, jika menanam rumput yang tumbuh rumput, Jika menanam rumput tidak akan tumbuh padi,tapi menanam padi pasti tumbuh rumputnya. Yang mempunyai maksud dan arti kurang lebih demikian: bahwa setiap manusia akan menuai hasil sebanding dengan apa yang dilakukan dan yang dikerjakannya.Jika menanam kebajikan akan berbuah kebajikan, jika menanam keburukan akan berbuah keburukan,tapi kadang setiap kebaikan belum tentu berbuah kebaikan pula, itulah ujian. Oleh karena itu berhati hatilah sebelum kita berbuat dan melakukan sesuatu hal. Dengan memikirkan dampak, akibat,serta resiko apa yang akan kita dapatkan itu lebih baik dari pada bertindak dan berbuat tanpa memikirkan terlebih dahulu dampak dan akibat dari apa yang kita kerjakan.Karena bisa jadi akan berakibat penyesalan. Sedangkan yang baik saja belum tentu berbuah kebaikan pula. Apa lagi yang tdak baik.Renungkanlah.... Sungguh sebuah filsafat yanmg luhur yang patut kita contoh dan kita tauladani dalam kehidupan kita sehari hari untuk hari esok lebih baik lagi.Salam.....

Jumat, 06 Mei 2011

Ana deleng dideleng ana rungu dirungu


Falsafah ana deleng dideleng, anarungu dirungu, ana rejeki setitik aja ditampik,ana wong seneng aja sirik. Merupakan falsafah kuno masyarakat cirebon yang berarti ada lihat dilihat, ada dengar didengar, ada rizki  sedikit jangan ditolak, ada orang bahagia jangan sirik. .
Sungguh sebuah falsafah hidup yang luhur dan patut kita teladani, yang  mengajak kita untuk menghormati dan menghargai orang lain dan tidak ikut campur terhadap urusan privasi orang lain.
Karena dengan kita menghargai orang lain dan menjaga perasaan orang lain serta tidak ikut campur terhadap urusan pribadi orang lain berarti kita menyelematkan diri kita sendiri .Akibat keusilan  dan keikut campuran kita  terhadap urusan pribadi orang lain yang bukan hak kita.
Fakta membuktikan banyak masalah dan peristiwa yang mengakibatkan pertikaian  dan pertengkaran disekitar lingkungan kita disebabkan karena ketersinggungan dan ketidak terimaan karena ikut campur dan usil terhadap masalah pribadi orang lain.
Oleh karena itu, mari kita menjaga perasaan orang lain dengan melihat  apa yang kita lihat, mendengar apa yang kita dengar, merasakan apa yang kita rasakan dan  menghargai privasi orang lain ,dengan tidak ikut campur terhadap masalah privasi orang lain yang bukan hak kita.
Pepatah mengatakan: " Kalau kita mau dihargai dan di hormati orang lain maka  kita harus terlebih dahulu menghargai dan menghormati orang lain".
Sungguh sebuah falsafah yang luhur yang patut kita tiru dan kita contoh demi kebaikan diri kita sendiri..

Jumat, 26 November 2010

Gampang Ucape Abot Ning Sanggane

Gampang ucape tapi abot sanggane yang artinya mudah di ucapkan tapi berat untuk dijalankan. Itulah janji, niatan,dan keinginan.

Selasa, 09 November 2010

Ibarat Wong Mancing Bagen Banyue Butek Tapi Kena Iwake

Ibarat Wong Mancing Bagen Banyue Butek Tapi Tetep Kudu Kena Iwake yang dalam bahasa indonesia berarti laksana orang memancing biarpun airnya keruh tapi harus dapat ikannya adalah falsafah yang banyak diungkapkan masyarakt Cirebon dalam menyelesaikan sebuah permasalahan atau persoalan, yang mengandung makna: dalam menghadapi sebuah permasalahan ataupun persoalan seberat apapun harus dapat terselesaikan dengan solusi yang benar,akurat dan tepat sasaran,sehingga  tidak menambah permasalahan  atau menimbulkan permasalahan baru ( memperkeruh keadaan ).
Oleh karena itu dalam menghadapi hal ini dibutuhkan jiwa besar, kejernihan  dalam berfikir , bertindak,serta kedewasaan dalam menentukan sebuah pilihan dengan didasari niatan tulus dan keikhlasan untuk memberikan solusi yang terbaik.
Namun sayang hal ini banyak dilupakan generasi  saat ini, yang cenderung berfikir instan dengan pedoman, "bagaimana nanti", bukannya "nanti bagaimana",dalam menghadapi setiap permasalahan dan persoalan. Tanpa berfikir panjang sebab dan akibat yang akan ditimbulkan.Sehingga permasalahan yang seharusnya dapat terselesaikan, kadang menambah besar dan menimbulkan permasalahan baru yang rumit untuk terselesaikan.
Oleh karena itu dalam kita menghadapi permasalahan dan persoalan, tidaklah salah kalau kita mengacu pada falsafah Bagen Banyue Butek Tapi Kena Iwake, sehingga  setiap persoalan dan permasalahan yang kita hadapi dapat terselesaikan dengan baik tanpa menambah dan menimbulkan permasalahan baru.

Selasa, 19 Oktober 2010

SEJATINE MENUSA

oleh Amoy Al Gendon pada 19 Oktober 2010 jam 20:48
Sejatine manusa adalah falsafah cirebon yang artinya manusia yang sesungguhnya bukannya setan,malaikat ataupun binatang. Sesuai dengan jati dirinya sebagai manusia mahluk ciptaan 4jjl yang memiliki derajat  lebih tinggi dari mahluk-mahluk ciptaan 4jjl lainnya seperti malaikat, syetan, binatang dan mahluk-mahluk lainnya.
Manusia adalah satu kesatuan antara jasad,ruh,hati,nafsu,imajinasi,pikiran,dan qolbu yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Dan manusia merupakan poros dari kehidupan,karena manusia diciptakan oleh  4jjl sebagai kalifah atau pimpinan dimuka bumi ini, oleh karena itu rusaknya ahlak dan jati diri manusia maka akan rusaklah alam dunia ini.Ibarat seorang pimpinan baik buruknya yang dipimpin tergantung yang memimpinnya.
Dan sejatine manusa adalah menjadi manusia yang sebenar-benarnya manusia sebagai mahluk ciptaan 4jjl yang mampu menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai manusia sesuai dengan perintah dan kehendak 4jjl yang menciptakan,yakni menjalankan segala perintahNya dan menjauhi segala laranganNya,agar  menjadi rahmattan lilalamin bagi umat manusia dan  alam lingkungan sekitarnya untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan di akherat.


Senin, 18 Oktober 2010

JANJI PENGEN MULIA KUDU BISA NJAGA PINTU LAWANG KANG SANGA


Falsafah  Cirebon "Janji pengen urip mulia kudu bisa njaga pintu kang sanga "yang dalam bahasa Indonesia berarti jika ingin hidup bahagia dunia akherat harus bisa menjaga lobang pintu yang sembilan yakni: dua buah mata, dua lobang hidung, dua lubang telinga, satu lobang mulut, satu lobang kemaluan dan satu lobang anus.
Yang penjabarannya adalah sebagai berikut: jika kita ingin hidup bahagia selamat di dunia dan akherat hendaklah kita harus bisa menjaga sembilan lobang yang ada pada diri kita, yakni lobang  mata. telinga, hidung, mulut, kemaluan dan anus.
Karena dari kesembilan lobang atau pintu yang ada pada diri kita itulah awal dari timbulnya masalah dan perbuatan dosa. Jika kita tidak mampu menjaganya, bisa jadi bencana dan mala petaka bagi diri kita sendiri. Banyak orang orang disekitar kita yang mendapatkan malapetaka dan terjerat melakukan  perbuatan dosa dan tercela karena tidak mampu  menjaga sembilan lobang yang ada pada dirinya.
Oleh karena itu jika kita ingin hidup bahagia selamat di dunia dan di akherat  hendaklah kita mampu menggunakan dan menjaga  sembilan pintu lubang yang ada pada diri kita. Jangan sampai sembilan lobang yang ada diri kita menjadi sumber malapetaka dan perbuatan dosa, akibat kita tidak mampu menggunakan dan menjaga sembilan lobang yang ada pada diri kita.
Sungguh sebuah falsafah  luhur yang mengandung arti dan makna yang dalam untuk kehidupan kita sehari-hari agar kita selamat dan bahagia hidup di dunia dan di akherat kelak.